Rabu, 29 Juni 2016

Hujan Bulan Juni

istockphoto in liputan6.com
JUDUL ini memang langsung saya ambil dari judul puisi “Profesor Penyair Indonesia”, Sapardi Djoko Damono, yang juga menjadi judul salah satu buku kumpulan puisinya. Bukan tanpa sebab kalau saya mengambil judul ini. Bulan Juni 2016 ini, bertepatan dengan bulan ramadan, di kampung saya (mungkin juga sebagian besar wilayah Indonesia) hampir setiap hari turun hujan. Cuaca mendung dengan udara sejuk lebih mendominasi, apalagi di kawasan pegunungan. Seperti hari ini tadi, sejak pagi mendung bergelayut di langit dan mulai menumpahkan air sebelum duhur. Sampai sore  hujan makin deras dan hingga malam hari ini pun belum juga reda.

Lalu apa yang menarik dari Hujan Bulan Juni ini? Menarik-tidaknya sebenarnya tergantung dari perspektik atau pun penilaian masing-masing orang. Setidaknya yang saya ingat, hujan bulan juni tahun ini persis seperti tahun 1998. Pada tahun itu hujan hampir sepanjang tahun. Musim kemarau basah, kata orang-orang. Biasanya bulan juni itu sudah masuk musim kemarau yang hampir tidak ada hujan. Musim panen bagi kaum tani (padi), musim bunga bermekaran untuk tanaman mangga, randu, dan sejenisnya, musim bediding yang ditandai dengan udara yang sangat dingin, musim kawin bagi banyak jenis binatang terutama unggas. Bulan juni bagi petani selain menjadi musim panen, juga sekaligus menjadi awal musim atau penanggalan awal kaum tani. Makanya pada bulan juni ada hari krida pertanian yang diperingati setiap tahun.

Bagi para petani dari kampung, hujan bulan juni tentu ini tentu banyak membawa berkah. Setidaknya bagi para peternak ruminansia, seperti peternak sapi perah dan kambing, tidak akan kesulitan mencari hijauan sebagai menu utama ternaknya. Karena hujan seringkali turun, tanaman dan rerumputan lebih “rajin” bersemi dan tumbuh.

Begitu juga dengan petani tanaman keras, seperti cengkeh, tak perlu mengairi seperti pada musim kemarau kering. Saat musim kemarau kering para petani umumnya 2 minggu sekali harus menyiram tanaman cengkeh yang berusia lebih dari 30-40 tahun itu. Bahkan untuk tanaman yang berusia kurang dari lima tahun, 1-3 hari sekali harus disiram agar pertumbuhannya tetap normal. Tak ketinggalan pula dengan petani kopi. Mereka tetap rajin menyiram tanaman kopinya, meskipun tanaman kopi dewasa atau berusia puluhan tahun tetap harus dapat siraman air yang memadai, terutama untuk jenis kopi genjah yang perakarannya pendek dan dangkal.

Hujan yang terjadi di musim kemarau juga sangat menguntungkan petani padi, karena mereka akan leluasa menggarap lahannya. Namun demikian, yang patut diwaspadai tentu saja timbulnya berbagai hama dan penyakit tanaman yang harusnya terputus di musim kemarau, dampak hujan yang tak henti-hentinya tetap menumbuhkebangkannya dan pada saat-saat tertentu bisa booming mematikan tanaman dan/ataupun menurunkan produktivitas tanaman.

Hujan bulan juni harus kita waspadai. Harus membuat kita semakin karib dengan lingkungan dan tetap menjaga lingkungan. Hujan bulan juni jangan membuat kita sekadar ber-roman-roman-an!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...